Baca Baca Lah
Senin, 13 Desember 2010
BEGONYA GUA -,-
Senin, 6 Desember 2010. gua berterima kasih bgt sama B'FOS. B'FOS kependekan dari BEST FRIEND OF SCIENCE yg berjumlah 5 wanita yg cantik dan bersahabat #dan jago acting muka sinis hahaha canda. B'FOS yg mempertemukan gua dengan sang mantan gua yg cantik untuk menyelesaikan a little problem / mengintrogasi dia di sebuah tempat makan yg tidak boleh di sebutkan merk nya pokoknya daerah Gajah Mada Mall yg barubaru ini gua tau -,- . Dihari ini lah dimana hubungan gua dengan sang mantan yg sampai sekrang gua sayang putus dengan alesan yg menurut orang2 termasuk gua sih basi banget (katanya sih nunggu UN selesai, mau fokus belajar). Yaiyalah gua ngerti bgt kok dia, tapi sayang dia gak ngerti gua HUFT. Waktu dia di introgasi sma sahabatnya berbagai penjelasan semua di jelaskan mulai dari masalah ank bawang, dan kerennya nya juga ada yg lebih terbaru yg bener2 gua gak tau sama sekali. Sambil menjelaskan dia menangis dan menyesal dengan perbuatan dia, dan akhirnya gua juga ikut sedih karena terbawa suasana, kalo gak ada shita air mata gua udah berceceran kemana2 (makasih shita :D tapi gua ketahuan cengeng -,-).
Mantan bilang pokonya yg intinya suatu saat kita udah lulus UN dia janji bakal balik sama gua, selama 5 bulan itu dia bilang gak bakal pacaran sama siapa aja termasuk ank bawang asalkan gua juga begitu sebaliknya. okee finee gua terima karena waktu itu rasa sayang gua sama dia belum sama sekali berkurang walau dia sudah bermain api sama gua sebelum2 nya (cool kan gua haha). Gua seneng banget berani ngomong gitu ke gua. karena tujuan gua pertama gua mau ngerubah dia supaya dia gak kaya begitu lagi, mungkin pikir gua dengan gua baik dan sabar hadapin dia, dia bisa bener2 berubah. tapi keyataanya ?? baru beberapa hari dia balik lagi kaya begitu . sekarang gua yg menyesal terlalu sayang sama dia dan terlalu baik sama dia, dari semua kepercayaan, kebaikan, kesabaran dari gua di balas dengan kebohongan dan kemunafikan. Sekarang2 ini gua lagi berusaha cari kejelekan dari dia supaya gua bisa lupa bener2 lupa ttg dia. tapi kenyataanya ?? gua bener gak bisa . INI LAH BEGONYA GUA adalah di saat gua udah di sakiti, dibohongin dll gua ttp sayang banget sama diaa.
Dari gua : Gua bakal ttp pegang janji dia ke gua dan gua juga bakal pegang janji2 gua ke dia, janji dia bakal selalu gua ingat dari pertama sampai yg terkhir2 ini. gua bakal nunggu 5 bulan lagi. apakah setelah 5 bulan dia masih konsisten dengan semua janjinya ? atau malah kurang dari 5 bulan dia udah lepas dari semua janjinya. Kita liat kelanjutannya haha :D
Pelajaran : Janji memang ringan diucapkan namun berat untuk ditunaikan, Janji adalah hutang , Janji juga di bawa mati karena dimintai pertanggungjawabannya. Kalo pengn janji pikir matang2 dulu baru kita mengucapkan janji malah kalau perlu pikir 2 kali supaya kita percaya kita sanggup nepatin janji kita.
Udah ah capekk gua ngetik udah abis juga kata2nya , wafi ngerengek minta minjem komp lagii -,- yawdh jadi kesimpulannya gua bingung bikin post ttg ape, bisa gak nyambung giniii dari tiap paragraf sampe bingung bikin judul ckckck -,-
sekiaann dari cerita ttg kebegoan gua yg 1 ini
Makasih yah :D
-ilo-
Kamis, 02 Desember 2010
Berharap :))
Minggu, 29 Agustus 2010
di sms gini huh
Selasa, 22 Juni 2010
Tentang Puasa Rajab
Sabtu, 05 Juni 2010
she said "lu belum kenal gua.percaya deh" .
Jumat, 04 Juni 2010
Renungan

Karena rasa penasaran, aku menghampiri salah seorang dari mereka. Seorang bapak dengan pakaian yang sedikit berbeda, kaos oblong dan celana pendek sebatas lutut, topi di kepala dan sebuah sekop di bahunya.
"Maaf, Pak." Lelaki itu hanya melirik sebentar dan terus melangkah. "Hendak ke mana orang-orang ini?" tanyaku. Lagi-lagi lelaki itu hanya melirik.
"Melayat," jawabnya pendek sambil terus melangkah. Aku diam. Melayat, gumamku dalam hati. Kembali hatiku berdesir mengeja kata itu.
"Kalau boleh tahu, siapa yang meninggal?" tanyaku lagi. Lelaki itu menghentikan langkahnya, berdiri dengan tatapan aneh. Ia terus menatapku lekat-lekat. Aku diam.
"Kamu. Kamu yang meninggal," ucapnya pendek. Kemudian kembali melangkah.
"Aku?" Aku terkesiap mendengar jawaban lelaki itu. "Aku yang meninggal?" ulangku. Sementara lelaki itu hanya diam dan terus berjalan.
"Bapak mau menggali kubur?" Sebuah pertanyaan bodoh yang aku ajukan. Aku juga melihat beberapa lelaki yang membawa cangkul dan sekop di bahu mereka.
"Ya."
Aku berhenti dan membiarkan lelaki itu menghilang di antara kerumunan orang-orang yang berjalan dalam satu arah.
Aku yang meninggal, batinku. Hatiku benar-benar bergetar membayangkannya. Apa maksud lelaki itu?
"Maaf, siapa yang meninggal?" kembali aku bertanya kepada seorang wanita dengan pakaian hitam-hitam yang kebetulan lewat di dekatku. Wanita itu berhenti sejenak, menatapku lekat-lekat, lalu menggeleng pelan.
"Kamu. Kamu yang meninggal," jawabnya pendek, kemudian kembali berjalan. Dan kembali aku terdiam.
Aku berjalan mengikuti kerumunan orang-orang itu. Sepertinya mereka sangat tergesa-gesa. Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya aku sampai di sebuah rumah. Satu-satunya rumah di bagian paling ujung jalan ini. Rumah mungil yang terpencil. Selebihnya hanyalah sungai yang membentang memisahkan desa tetangga. Kerumunan orang-orang nampak begitu ramai. Di sebelah timur, barat, depan dan belakang rumah tersebut. Itu rumahku, batinku. Kebingungan melanda benakku.
Bergegas aku melangkah menembus kerumunan tersebut. Lalu aku segera masuk ke dalam rumah. Di tengah ruangan ada peti mati yang terbuka tutupnya. Beberapa lelaki dan perempuan bersimpuh di sekelilingnya. Ayah dan ibu terisak di salah satu ujung peti mati tersebut. Sebagian dari orang-orang itu menoleh ke arahku. Tatapan mereka benar-benar asing. Perlahan aku mendekati salah seorang dari mereka. Ia pemuka adat di sini.
"Maaf, siapa yang meninggal?" sedikit berbisik aku bertanya. Lelaki pemuka adat itu menoleh. Tatapannya sama dengan tatapan orang-orang yang lain.
"Kamu yang meninggal," jawabnya sambil terus menatap wajahku.
"Tapi aku masih hidup. Aku masih bernafas. Aku juga bisa bicara. Orang-orang juga masih bisa melihatku," sergahku. Lelaki itu diam.
"Bahkan, Bapak bisa memegang tubuhku," lanjutku.
Aku menarik salah satu tangan lelaki itu dan mendekatkannya ke tubuhku. Namun dengan cepat, lelaki itu menarik kembali tangannya.
"Aku masih bisa menyentuh orang lain. Berarti aku belum mati," ucapku.
"Jiwa kamu. Jiwa kamu yang telah meninggal," lelaki pemuka adat itu berkata lirih.
"Jiwaku?" Tatapanku beralih ke dalam peti mati yang ada di hadapanku. Ada buntalan kain kafan yang diikat sepanjang peti mati itu. Perlahan dan dengan hati-hati aku menyentuhnya. Kosong.
"Jiwa - seperti juga kematian - ia tidak bisa diraba atau dilihat." Lelaki pemuka adat itu seakan mengerti kebingunganku. Kemudian kami diam.
Tak lama kemudian, proses pemakaman dimulai. Beberapa orang lelaki memindahkan peti mati yang telah ditutup ke dalam keranda. Kemudian beberapa lelaki yang lain berdiri pada tiap ujung keranda tersebut, lalu mengangkatnya dan membawa keluar rumah. Kerumunan segera tersibak saat rombongan pembawa keranda itu lewat. Dengan langkah panjang-panjang, lelaki-lelaki itu membawa keranda ke arah makam. Di belakangnya mengekor para pelayat, termasuk aku.
Pemakaman berlangsung dengan cepat. Tak lama kemudian, para pelayat bubar. Aku berjalan pelan mendekati makam yang masih baru itu. Aku bersimpuh di samping gundukan tanah merah. Pada batu nisannya tertulis namaku, juga tarikh lahir dan tanggal kematianku.
Aku terdiam. Sekuntum bunga kamboja luruh dari dahannya. Aku telah meninggal. Jiwaku telah meninggal. Kata-kata itu terus terngiang dalam benakku.
Kamis, 03 Juni 2010
Ciri-Ciri Fisik Perawakan Nabi Muhammad
Sampai saat ini tidak ada satu orangpun yang bisa melukiskan rupa Muhammad. Selain larangan dari Nabi Muhammad sendiri, hal ini juga untuk menjaga bagi kaum muslim agar tidak memuja Muhammad melebihi Allah. Dan Allah maha tahu, memang sekarang banyak kita jumpai gambar para Dewa dan Tuhan yang sering di parodikan oleh manusia itu sendiri. Itulah dampak jika Dewa atau Tuhannya memperbolehkan umatnya untuk melukiskan wujudnya. Memang kita tidak boleh menggambarkan Muhammad dalam bentuk lukisan dan patung, namun kita boleh mengetahui ciri-ciri perawakan Muhammad seperti yang diceritakan oleh Ali bin Abi Thalib.
Ali bin Abi Thalib merincikan ciri-ciri fisik dan penampilan keseharian Muhammad, Ali berkata :
“Nabi Muhammad tidak terlalu tinggi dan tidak pula terlalu pendek. Berpostur indah di kalangan kaumnya, tidak terlalu gemuk dan tidak pula terlalu kurus. Perawakannnya bagus sebagai pria yang tampan. Badannya tidak tambun, wajah tidak bulat kecil, warna kulitnya putih kemerah-merahan, sepasang matanya hitam, bulu matanya panjang. Tulang kepalanya dan tulang antara kedua pundaknya besar, bulu badannya halus memanjang dari pusar sampai dada. Rambutnya sedikit, kedua telapak tangan dan telapak kakinya tebal. Apabila berjalan tidak pernah menancapkan kedua telapak kakinya, beliau melangkah dengan cepat dan pasti. Apabila menoleh, beliau menolehkan wajah dan badannya secara bersamaan. Di antara kedua bahunya terdapat tanda kenabian dan memang beliau adalah penutup para nabi. Beliau adalah orang yang paling dermawan, paling berlapang dada, paling jujur ucapannya, paling bertanggung jawab dan paling baik pergaulannya. Siapa saja yang bergaul dengannya pasti akan menyukainya.”
Setiap orang yang bertemu Muhammad pasti akan berkata, “Aku tidak pernah melihat orang yang sepertinya, baik sebelum maupun sesudahnya.” Begitulah Muhammad di mata khalayak, sebab beliau berakhlah sangat mulia seperti yang digambarkan Al-Qur’an,“
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.“(Al-Qalam: 4)”.
Dalam hadits riwayat Bukhari, Muhammad digambarkan sebagai orang yang berkulit putih. Dikisahkan oleh Ismail bin Abi Khalid :
“Aku mendengar Abu Juhaifa berkata, “Aku melihat sang Nabi dan Al-Hasan bin Ali tampak mirip dia. “Aku berkata pada Abu Juhaifa, “Coba gambarkan sosok nabi padaku.” Dia berkata, “Dia berkulit putih dan jenggotnya hitam dengan uban putih. Dia berjanji memberi kami 13 ekor unta betina, tapi dia terlanjur mati terlebih dahulu sebelum kami menerimanya.”
Tentang mencat rambut dengan henna (pewarna rambut berwarna merah). “Sudah jelas aku melihat Rasulallah mencat rambutnya dengan henna dan itulah sebabnya akupun mencat rambutku dengan henna.

